Monday, November 27, 2006
Wisata Kampoeng Toea : Molenvliet
Sudah pernah mendengar kata "Molenvliet"? Jujur saja, saya pun baru kali ini mendengar kata tersebut, dan langsung penasaran ingin mengetahui apakah Molenvliet itu.Dari sebuah milis komunitas pecinta sejarah dan museum, saya mendapatkan info sebuah acara rutin yang diadakan oleh Museum Sejarah Jakarta atau yang biasa dikenal dengan Museum Fatahillah, acara itu diberi nama : Wisata Kampoeng Toea - Molenvliet. Sesaat setelah mendapatkan informasi, saya segera menghubungi panitia dan mengajukan beberapa pertanyaan yang mengundang rasa penasaran saya untuk ikut serta berwisata bersama.
Hari minggu pagi yang cerah, 19 November 2006, saya bersemangat sekali untuk ikut berwisata ke Molenvliet bersama komunitas pecinta sejarah, budaya, dan museum. Tepat jam 07.30 saya tiba di pelataran museum Fatahillah untuk mendaftarkan diri sejenak. Asyiknya, acara ini bisa saya ikuti secara gratis tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Wah, ternyata animo masyarakat umum cukup besar, terbukti peserta yang mendaftar hari itu mencapai 200-an orang, sehingga panitia pun perlu membatasi jumlah peserta agar tak melebihi batas. Saya semakin kaget dan juga senang, karena sebagian besar peserta adalah kaum muda. Dalam hati saya bergumam, "Wah, ternyata kita masih patut menaruh harapan positif pada generasi muda dalam hal konservasi budaya serta situs-situsnya." Ya semoga saja budaya bangsa ini akan tetap lestari karena kepedulian generasi muda untuk ikut menjaganya.
Setelah mendaftar, saya dan peserta lainnya diberi pengarahan sejenak, untuk kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok yang dikomandani 2 orang tour guide. Saya sendiri bergabung dengan kelompok 6, yang pesertanya lumayan seru dan kompak.
Rute wisata hari itu adalah kawasan Molenvliet dan sekitarnya. Apa sih sebenarnya Molenvliet? Dalam sejarah yang saya kutip dari lembar panduan wisata hari itu, Molenvliet adalah sebuah kanal yang sengaja digali pada tahun 1648 oleh Kapten Cina Phoa Bing Am yang berfungsi sebagai penggerak kincir angin dan penggilingan tebu. Di sepanjang Molenvliet kemudian berdiri gedung-gedung mewah dan indah yang beberapa digunakan sebagai rumah peristirahatan pejabat VOC. Saat ini, sisa Molenvliet dapat kita nikmati di sepanjang kawasan Glodok. Bangunan bersejarah yang masih bisa disaksikan di sepanjang Molenvliet antara lain gedung Candranaya, Gedung Arsip Nasional, SMA 2 Jakarta yang konon dulunya merupakan Klenteng, serta Masjid Kebon Jeruk yang disebutkan sebagai masjid tertua di Jakarta.Hari itu, kami semua menikmati wisata sejarah Molenvliet dengan berjalan kaki mulai dari kawasan museum Fatahillah, kemudian menyusuri kawasan Glodok, dan berakhir di masjid Kebon Jeruk.
Candranaya
Candranaya, sebuah bangunan khas Tionghoa tua yang selalu menyita perhatian saya saat melintasi kawasan pecinan Glodok. Setiap kali saya melintas di depannya, saya antusias untuk menuntaskan rasa penasaran saya terhadap sejarah bangunan tersebut. Terlebih setelah bangunan tua itu tampak tak berdaya setelah diatasnya telah berdiri kokoh rangka beton gedung tinggi. Setelah sekian lama menanti, rasa penasaran saya terpuaskan di hari itu saat saya mendapatkan kesempatan untuk menjelajah kedalamnya.
Waaah...ternyata bangunan Candranaya benar-benar masih menyimpan kecantikan didalamnya, saya banyak menemui sudut-sudut yang dihiasi ornamen cantik khas tionghoa. Segera saja saya memotret ornamen-ornamen itu dari berbagai sudut, senang rasanya saya masih bisa menikmati keindahan Candranaya walau dalam kondisi yang memprihatinkan.
Konon, bangunan Candranaya yang dulunya adalah milik tuan tanah asal Tionghoa ini, dibangun sekitar abad ke-17 dengan gaya arsitektur khas Cina, terlihat dari atap bangunan yang berbentuk segi empat trapesium dengan ujung kiri-kanan yang meruncing.Gedung Arsip Nasional
Siapa yang tak kenal gedung Arsip Nasional yang berada di jalan Gajah Mada? Bahkan mungkin sebagian orang pernah berkunjung kesana walaupun bukan untuk belajar sejarah, melainkan menghadiri pesta pernikahan seorang kerabat yang akhir-akhir ini memang kerap diadakan di halaman belakang gedung ini.
Hingga saat ini gedung Arsip masih terlihat megah, padahal gedung ini sudah berdiri kokoh sejak tahun 1760. Adapun yang mendirikannya adalah Gubernur Jenderal Reiner de Klerk. Saat itu, gedung Arsip dijadikan rumah peristirahatan oleh Sang Gubernur.
Ketika kaki saya melangkah di pelataran depan gedung ini, mata saya pun tak habis-habisnya kagum memandangi arsitektur bangunan dan detil-detilnya. Sebuah pintu utama besar berhiaskan ukiran indah dan patung cantik di bagian atasnya, serta jendela-jendela besar di sisi kiri-kanannya, membuat fasad depan bangunan ini nampak megah.
Didalam gedung ini, tanpa sengaja saya menemukan sudut yang cukup menarik perhatian saya, yaitu susunan list pada dinding bagian bawah ruang depan gedung Arsip, yang terbuat dari porselein, menyerupai komik dengan sebuah cerita di masa lampau. Unik sekali!
Selesai menjelajah gedung Arsip, saya dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Masjid Kebon Jeruk, yang letaknya tidak jauh dari gedung Arsip. Masjid Kebon Jeruk dibangun pada tahun 1786 oleh seorang Kapten muslim Tionghoa bernama Tamien Dosol Seeng. Konon, masjid ini merupakan masjid tertua di Jakarta. Yang unik dari masjid Kebon Jeruk adalah fasad bangunannya dengan arsitektur khas Tionghoa. Di halaman belakang masjid ini terdapat makam bertahtakan batu nisan tua yang berasal dari negeri Cina. Tidaklah heran, karena makam tersebut merupakan makam Nyonya Cai, istri dari Kapten Tamien Dosol Seeng yang wafat tahun 1792.
Setelah seharian puas berwisata sejarah ke kawasan Molenvliet, saya dan rombongan pun kembali ke Museum Fatahillah untuk melakukan salam perpisahan serta makan siang bersama sejenak.
Hummm.. Ternyata belajar sejarah terasa sangat mengasyikkan bila dilakukan dengan cara yang menyenangkan seperti yang saya lakukan di hari minggu itu. Ibarat menelusuri lorong waktu, saya membayangkan suasana dan kondisi di jaman dahulu saat mengunjungi situs-situs sejarah tersebut satu per satu. Betapa serunya!