Saturday, November 11, 2006
Liburan Estafet Bromo-Malang-Surabaya

Seminggu setelah libur lebaran dan sebelum terlanjur asyik dengan rutinitas pekerjaan, saya bersama beberapa teman menyempatkan diri sejenak untuk traveling ke Jawa Timur. Tujuan utama kami mengunjungi pegunungan Bromo yang menawan, yang membuat kami penasaran untuk menjelajah kesana.

Berburu dengan waktu, mengejar sunrise di Bromo

Jumat malam, 3 November 2006, sepulang kerja saya dan 2 orang teman (Fani & Achie) langsung menuju bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Surabaya. Pesawat yang kami tumpangi adalah Air Asia, pesawat andalan para backpacker karena harganya yang terkenal murah. Jadwal penerbangan kami sempat tertunda satu jam, dan itu berarti kedatangan kami di Surabaya juga terlambat satu jam, sehingga perjalanan yang telah kami rencanakan untuk menuju Bromo juga terpotong satu sampai dua jam karena keterlambatan tersebut.

Tepat jam 23.00 wib kami mendarat di bandara Juanda Surabaya, dan langsung dijemput oleh teman kami yang berdomisili di Surabaya. Setelah kami menyempatkan diri sejenak untuk mandi, istirahat, dan melakukan beberapa persiapan menuju Bromo, kami pun beranjak dari Surabaya dini hari, jam 00.30 wib. Kami memutuskan untuk mencoba jalur perjalanan melalui Purwodadi arah Malang. Karena berdasarkan informasi yang kami dapatkan, jalur tersebut lebih pendek dan dekat dibandingkan dengan Probolinggo sebagai jalur utama menuju Bromo. Tujuan kami adalah mengejar sunrise di Puncak Pananjakan, area Bromo. Sehingga malam itu pun kami berburu dengan waktu.

Saya sungguh menikmati perjalanan malam itu. Saat mobil yang kami tumpangi menjadi kendaraan satu-satunya yang melintasi area semburan lumpur Lapindo di tol Porong-Gempol, rasanya seru sekali, adrenalin saya mulai terpicu. Setelah kami tiba di daerah Gempol, kami mulai merasakan lapar. Maklum saja, perjalanan melelahkan dari Jakarta membutuhkan energi extra, terlebih kami akan melakukan perjalanan ke Bromo, fisik kami dituntut untuk tetap fit. Setelah menyusuri jalan raya Gempol, kami menemukan rumah makan Soto Ayam Lombok. Wah, pas sekali! Seporsi soto ayam menghangatkan tubuh kami. Dan ternyata soto ayam Lombok rasanya enak, bumbunya sangat khas dan sedap, sepintas terasa seperti soto Kudus, namun ada rasa bumbunya yang berbeda.


Kami pun melanjutkan perjalanan setelah perut kami terisi bahan bakar yang cukup. Karena perjalanan yang kami tempuh cukup panjang dan rasa kantuk pun tak tertahankan, kami memutuskan untuk tidur sejenak di mobil secara bergantian. Saat saya tertidur, teman saya menjadi navigator, menemani teman yang mengemudikan mobil, begitu sebaliknya.

Saya terbangun saat mobil kami berada di ketinggian pegunungan diantara hutan pinus. Ada satu pemandangan indah yang saya temui malam itu. Dari ketinggian, saat melintasi jalur pegunungan, saya melihat bulan yang sangat bulat dan terang, tampak menjadi lebih dekat. Cantik sekali! Pemandangan indah itu menghilangkan rasa khawatir di benak saya, saat tersadar bahwa mobil yang saya tumpangi adalah satu-satunya kendaraan yang melintas ditengah kegelapan hutan pinus, dan dikiri-kanan jalan terbentang jurang. Dengan musik yang selalu mengalun didalam mobil, saya bersama teman-teman berusaha tenang, santai, dan menikmati perjalanan tersebut.

Bermodalkan peta Jawa Timur ditangan, kami menyusuri satu per satu titik-titik wilayah menuju Bromo. Namun, saat melintasi hutan pinus tanpa petunjuk apapun, kami menyadari bahwa kemungkinan kami tersasar. Jalur yang rencananya kami tempuh adalah Nongkojajar-Ngadiwono-Tosari-Wonokitri-Bromo. Namun karena tersasar, jalur kami berubah menjadi Nongkojajar-Ngadiwono-Tutur -Puspo-Tosari-Wonokitri-Bromo. Waktu tempuh kami pun menjadi lebih lama sekitar 1,5 sampai 2 jam. Saat tersasar, kami mulai kebingungan karena tidak ada satupun petunjuk atau orang yang bisa kami tanya. Sehingga dengan rasa percaya diri, kami mencoba mengikuti lika-liku jalan yang kami lewati. Tenang rasanya setelah kami melintasi kawasan pedesaan tepat jam 03.30 pagi. Kami menemukan seseorang tempat kami bertanya. Atas petunjuk orang itu, kami tempuh kembali perjalanan.

Gagal menikmati sunrise di Pananjakan

Setelah melewati perjalanan panjang menuju Bromo, dan sempat tersasar, kami akhirnya tiba juga di salah satu pos wisata Bromo. Sayang sekali saat kami tiba, waktu telah menunjukkan pukul 04.45 wib, dimana matahari sudah bersinar terang di area pegunungan Bromo. Gagal lah perjuangan kami untuk menikmati sunrise di Pananjakan. Namun kekecewaan itu terbayar ketika kami mulai menikmati keindahan pemandangan yang masih sangat alami di sekitar Bromo, dan merasakan dinginnya udara disana.

Untuk menuju puncak Bromo dari pos wisata, kami menyewa mobil jeep offroad. Mobil yang kami tumpangi sebelumnya diparkir di pos wisata. Ternyata kami masih harus menempuh perjalanan sejauh 10-15 KM untuk sampai di laut pasir. Ditengah udara dingin dan sinar matahari yang mulai terang, dari dalam jeep, kami sungguh menikmati keindahan pemandangan alam di sekitar Bromo, hutan pinus dan sekumpulan monyet yang bebas berkeliaran diantara pohon-pohon yang kami lewati menambah kemeriahan alam disana.


Lautan Pasir, Kuda Sumbawa, Kawah Bromo

Semakin jauh kami menempuh perjalanan, semakin dekat kami dengan Bromo. Jeep yang kami tumpangi pun dengan tangguhnya melaju di lautan pasir Bromo yang luas. Dari balik gunung Batok, terlihat Pura Agung suku Tengger berdiri kokoh ditengah-tengah padang pasir yang terhampar. Jeep kami berhenti di dekat Pura, karena untuk naik ke puncak Bromo kami harus jalan kaki atau naik kuda.

Kami memutuskan untuk mencoba naik kuda sampai dengan titik anak tangga menuju kawah Bromo. Kuda-kuda yang terdapat di Bromo sebagian besar berasal dari Sumbawa, terlihat dari bentuknya yang tangguh dan cantik. Pada awalnya saya merasa khawatir karena saya belum terbiasa naik kuda, apalagi ketika harus melintasi pegunungan Bromo yang berbatu dan terjal, saya harus bisa menjaga keseimbangan tubuh saya dengan gerakan sang kuda. Namun setelah sekian menit, perasaan saya mulai stabil dan saya mulai menikmati hiking sambil naik kuda.

Kuda-kuda yang kami gunakan hanya bisa ditumpangi sampai area dekat titik anak tangga terbawah menuju kawah Bromo. Selanjutnya, kami harus hiking menaiki tangga yang sangat tinggi dan curam untuk sampai di puncak Bromo demi menikmati keindahan pemandangan dari atas sana. Ternyata cukup melelahkan.

Tapi semua rasa lelah yang saya rasakan itu hilang sekejap, saat saya tiba di puncak Bromo. Rasanya puas sekali!

Walaupun dingin dan bau belerang sudah mulai tercium, saya tetap asyik menikmati pemandangan yang luar biasa indah dari ketinggian puncak Bromo. Hal itu membuat saya semakin mencintai keindahan alam ini, juga Sang Pencipta-Nya.

Kawah Bromo sangat aktif mengeluarkan kepulan asapnya yang menebarkan bau belerang. Dengan hati-hati, saya dan teman-teman asyik berfoto serta mengabadikan gambar pemandangan alam yang indah dari ketinggian. Sejauh mata saya memandang, tampak barisan puncak-puncak gunung lainnya di sekitar kawasan Bromo. Betapa bagus dan sempurnanya alam ini, decak kagum saya tak henti-henti.

Setelah puas menikmati keindahan alam dari ketinggian serta berfoto, saya dan teman-teman menuruni puncak gunung untuk kembali ke pos wisata. Sebelum kembali menuju pos wisata dengan jeep, saya menyempatkan diri berkuda menyusuri lautan pasir sambil mengitari Pura Agung, dan mengamati keunikannya. Sayang sekali, kunjungan saya saat itu tidak bersamaan dengan upacara Kesodo suku Tengger, sehingga tidak ada ritual budaya yang bisa saya nikmati disana. Mungkin jika ada kesempatan, saya berkeinginan kembali ke Bromo saat Kesodo berlangsung.

Bromo-Malang

Dari Bromo sekitar jam 08.00 wib, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan ke Malang. Rencananya kami akan beristirahat sejenak di Malang sebelum kembali ke Surabaya. Lagi-lagi saya sangat menikmati perjalanan tersebut. Saat mobil kami melintasi wilayah pedesaan Tosari, saya puas mengamati kegiatan orang-orang disana saat pagi hari. Apalagi saat kami menyempatkan mampir sejenak di pasar Tosari untuk makan pagi, rasanya saya menyatu dengan komunitas pedesaan, seru sekali!

Perjalanan dari Bromo ke Malang kami tempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam, karena kami melewati Pasuruan yang jaraknya lebih jauh. Tiba di kota Malang saat makan siang. Kami sempat beristirahat, mandi dan makan siang di kediaman kerabatnya salah seorang teman kami. Saat sore tiba, kami berpamitan untuk kembali ke Surabaya.

Surabaya-Hotel-Rawon Setan

Di sepanjang perjalanan Malang-Surabaya, saya sempat menikmati langit jingga yang indah, juga siluet-siluet pegunungan disaat senja. Jarak Malang-Surabaya kami tempuh sekitar 3 jam, karena kami terkena kemacetan di wilayah Porong. Setelah letih menempuh perjalanan panjang yang mengasyikkan, tibalah kami di hotel Narita yang kami pilih untuk bermalam. Hotel kami terletak di daerah Nginden arah Wonokromo. Hotel Narita berambience Jawa tradisional, dengan fasilitas yang nyaman namun harganya sangat terjangkau. Maklum saja, karena kami berlibur ala semi backpacking, jadi mencari hotel pun yang lumayan murah.

Sesampainya di kamar, sejenak saya merebahkan tubuh letih saya di kasur yang empuk. Oh, saya sangat rindu kasur empuk dan tidur nyaman! Karena dari mulai saya tiba di Surabaya kemudian menempuh perjalanan ke Bromo hingga kembali lagi ke Surabaya, saya belum sempat tidur nyenyak di kasur empuk.

Setelah 2 jam menyempatkan diri untuk tidur, saya dan teman-teman berniat makan malam di Rawon Setan di Jl. Embong Malang persis di depan hotel JW. Marriot Surabaya. Rasa Rawon Setan cukup enak, dan mungkin yang membuat rawon ini khas adalah potongan dagingnya yang besar-besar disajikan dalam satu mangkok, karena biasanya pada rawon, potongan daging disajikan kecil-kecil dalam satu mangkok.

Kenapa dinamakan Rawon Setan? Sebagian besar orang bilang, karena dulu warung rawon itu baru buka jam 11 malam sampai jam 2 dini hari. Karena buka malam-malam itu maka disebut Rawon Setan. Ada juga versi barunya, karena harga rawon per-porsi lumayan mahal apalagi jika rawon dan nasi dipisah, jadi begitu orang bayar dan kaget karena mahal, terus secara spontan orang akan menyebut Setaaannn!, jadilah dinamakan Rawon Setan. Tapi apapun versinya, tetap saja Rawon Setan ini dijadikan salah satu tempat kuliner yang asyik saat berada di Surabaya.

Sepulang dari berkuliner di Rawon Setan, kami kembali ke hotel untuk tidur pulas dan beristirahat, sebelum melanjutkan city tour di Surabaya keesokan harinya.

City Tour House Of Sampoerna (HoS)-Jembatan Merah-Pecinan

Minggu pagi, saya terbangun di hotel, dan sejenak menikmati kepenatan wilayah Surabaya Timur dari jendela kamar hotel. Kemudian saya bergegas untuk mandi dan bersiap-siap packing untuk cek out dari hotel. Tepat jam 11.30 wib, saya dan teman-teman cek out dari hotel, dan melanjutkan untuk ber-city tour sejenak di kota tua Surabaya sebelum kami ke bandara dan terbang kembali ke Jakarta.

Tujuan city tour kami adalah House of Sampoerna (HoS) di Jl. Taman Sampoerna, dekat dari Jembatan Merah juga kawasan pecinan Kya Kya di Jl. Kembang Jepun. HoS merupakan kawasan museum milik keluarga Sampoerna. Bagi sebagian orang yang anti rokok, biasanya anti juga mengunjungi museum ini. Atau jika mengunjungi pun, kerap kali mereka menorehkan pesan-pesan anti rokok pada buku tamu yang tersedia disana.

Apa saja yang bisa dilihat di HoS? Tentunya segala hal yang berhubungan dengan proses produksi industri tembakau Sampoerna, dari jaman dahulu yang masih sangat tradisional hingga saat ini yang sudah modern. Antara lain mesin giling tembakau, mesin cetak bungkus rokok, peralatan produksi, koleksi bungkus rokok dan korek api dari jaman dahulu kala.


Disana, melalui touch screen machine, pengunjung bisa mengetahui cerita sejarah perkembangan perusahaan Sampoerna, program-program pemasaran dan kampanye periklanannya, dan juga program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan Sampoerna untuk masyarakat sekitarnya. Yang tidak kalah seru, dari lantai atas pengunjung bisa melihat ribuan buruh yang sedang bekerja, bahkan kata petugas, pengunjung bisa ikut mencoba melakukannya.

Jika ingin berfoto, fasad depan bangunan HoS lumayan unik untuk dijadikan objek foto. Dengan pilar-pilar kokohnya yang khas menyerupai rokok.

Sepulang dari HoS, kami melewati jembatan merah dan kawasan pecinan Surabaya. Sayangnya, karena waktu terbatas, kami tidak sempat mengunjungi museum lainnya. Selesai singkat bercity tour dan sebelum menuju bandara, kami menyempatkan untuk bersantap Nasi Pecel Ponorogo dekat WTC. Sudah lama juga saya tidak mencicipi nasi pecel khas Jawa Timur. Biasanya yang saya cicipi adalah nasi pecel Madiun, dimakan pakai empal goreng, sungguh enak!

Tibalah saatnya kami, tim jalan-jalan seru, meninggalkan kota Surabaya. Rasanya tidak rela, saya masih ingin liburan, namun apa daya rutinitas pekerjaan sudah menunggu di keesokan hari.

Liburan kali ini benar-benar liburan estafet, walaupun singkat dan melelahkan, saya merasa sungguh puas, karena keinginan saya untuk menginjakkan kaki di Jawa Timur, juga mengunjungi Bromo bisa terwujud.



si doyan jalan foot step on 3:41 PM.