Saturday, October 06, 2007
One Day Backpacking: Menjelajah ke Kepulauan Seribu
Sabtu pagi itu, sekitar jam 06.00 wib kami awali dengan berkumpul bersama di depan Mal Ciputra, dan kemudian melakukan perjalanan menuju Muara Angke dengan angkutan kota. Sesampainya di Muara Angke, ternyata kami terlambat beberapa menit. Kapal klotok yang akan kami tumpangi baru saja meninggalkan dermaga. Namun, dewi keberuntungan ternyata menyertai perjalanan kami di pagi itu. Kapal klotok tersebut tenyata masih sangat dekat dan terlihat dari dermaga. Beberapa awak kapal lain yang ada di dermaga berupaya memanggil dan memberi tanda ke kapal yang akan kami tumpangi tersebut. Hasilnya, kapal itu pun bersedia kembali ke dermaga untuk mengangkut kami. Sang juru mudi yang baik hati pun dengan semangat mengangkut kami, kebetulan saat itu penumpang kapal memang tidak banyak, sehingga ia dengan senang hati menjemput kami kembali ke dermaga.
”Exciting” itu yang saya rasakan. Duduk lesehan di dalam kapal klotok bersama teman-teman, di dekat juru mudi yang asyik mengemudikan kapal, menikmati angin laut yang berhembus tenang.
Perjalanan yang kami tempuh dari Muara Angke menuju Pulau Untung Jawa memakan waktu sekitar satu jam. Dalam perjalanan menuju Pulau Untung Jawa, kami melewati beberapa gugus Kepulauan Seribu yang masih cukup dekat dengan pantai Jakarta, seperti Pulau Bidadari dan Pulau Onrust yang dari kejauhan menampakkan reruntuhan sisa-sisa benteng dan bangunan lainnya peninggalan kolonial.
Setelah satu jam naik kapal klotok, tibalah kami di Pulau Untung Jawa. Dermaga di pulau itu cukup ramai, karena Pulau Untung Jawa adalah pulau yang berpenduduk. Selain kapal klotok yang mengangkut kami, terdapat pula beberapa kapal motor yang lebih terbuka untuk mengangkut penduduk Untung Jawa menuju Tanjung Pasir, Tangerang, yang memang berjarak lebih dekat, dan bisa ditempuh hanya dalam waktu setengah jam saja.
Setelah mendapatkan banyak informasi dan contact person yang mudah kami hubungi, sambil menunggu waktu pulang, kami menyempatkan diri menyebrang dan juga survey ke Pulau Rambut. Dengan menyewa kapal penumpang jurusan Untung Jawa – Tanjung Pasir, kami transit ke Pulau Rambut, yang jaraknya sangat dekat dengan Untung Jawa.
”Ngeri” itu yang pertama saya rasakan saat memasuki hutan di Pulau Rambut. Kami ditemani oleh seorang jagawana untuk melakukan trekking melalui jalan setapak yang membelah kerindangan hutan. Tujuan kami adalah menara pandang Pulau Rambut yang berada di tengah-tengah pulau. Di sepanjang jalan menuju menara, kami bisa melihat secara jelas biawak besar yang hidup bebas di area hutan Pulau Rambut.Setelah hampir 30 menit melakukan trekking, kami pun sampai di menara pandang. Menara ini tingginya 20 meter. Untuk sampai di puncak menara, kami harus naik anak-anak tangga yang jumlahnya banyak. Satu lagi tantangan untuk saya: Menaklukan fobia ketinggian. Awal menaiki anak-anak tangga menara, saya sempat deg-degan, tetapi saya berusaha untuk tidak menatap ke bawah. Pandangan saya selalu saya arahkan ke atas, dan akhirnya sampai juga saya dan teman-teman di puncak menara.
Wow... benar-benar indah! Berada di puncak menara serasa berada disebuah negeri antah berantah. Saya bisa melihat dengan leluasa kerindangan hutan Pulau Rambut, puluhan bahkan ratusan bangau laut cantik berwarna putih, burung belibis, dan jenis burung lainnya yang bebas hinggap dan terbang di pucuk-pucuk pepohonan.
Sejauh mata memandang, terlihat lautan luas berwarna biru dan hijau tosca, dengan perahu-perahu nelayan berlayar diatasnya, pasir pantai yang putih, ujung Pulau Untung Jawa, dan juga samar-samar tampak gugusan kepulauan lainnya.Puas melakukan birdwatching dan menikmati keindahan pemandangan dari atas menara, kami pun kembali turun dan trekking ke area luar pulau. Saat itu, kami lagi-lagi bertemu dengan biawak besar yang sedang berjalan membelakangi kami. Di sisi lainnya, kami melihat biawak kecil, kemungkinan itu anaknya. Agak khawatir juga berada hanya beberapa meter dari biawak besar itu, namun karena ditemani jagawana, saya bisa melawan rasa khawatir itu.
Tidak lama, kami pun sampai di luar pulau. Kami masih harus menunggu kapal yang akan menjemput kami kembali ke Pulau Untung Jawa. Sambil menunggu, kami sempat berfoto dan juga berleyeh-leyeh di pinggir pantai menikmati angin laut serta pemandangan kapal nelayan yang hilir mudik berlayar sambil menjala ikan.
Sesampainya di Pulau Untung Jawa, kami kembali sejenak menyusuri pinggir pulau sambil melihat-lihat penginapan lainnya yang belum sempat kami jajaki. Tidak lama, waktu sudah menunjukkan jam 14.30 wib, pertanda kami harus bersiap-siap di dermaga untuk menanti kapal klotok yang menuju Muara Angke.
Ternyata kapal klotok dari arah Pulau Pramuka baru terlihat jam 15.30 wib, kami pun perlu untuk melambai-lambaikan tangan memberi tanda bahwa ada penumpang yang akan ikut menumpang ke Muara Angke. Dengan semangat, kami bertujuh melambai-lambaikan tangan di pinggir dermaga sampai kapal klotok itu berbalik arah menuju ke Pulau Untung Jawa untuk mengangkut kami.
Setelah itu, kami kembali melakukan perjalanan dengan angkutan kota ke terminal Grogol untuk kemudian melanjutkan pertemuan kami sambil berbuka puasa di Plaza Semanggi.
Sabtu itu benar-benar hari yang menyenangkan! Banyak hal-hal menarik, wawasan, dan pengalaman baru yang saya dapatkan dari perjalanan sehari itu. Di lain waktu, saya ingin kembali menjelajah ke Kepulauan Seribu sambil mencoba ber-snorkling ria menikmati keindahan bawah lautnya. What a wonderful life!
Ngabuburit ke Kampoeng Arab Pekojan
Minggu sore 23 September 2007, jam 14.30 wib, saya sudah berada di pelataran museum Fatahilah (Museum Sejarah Jakarta). Sore itu, saya bersama 100 orang teman milis dari Komunitas Jelajah Budaya (KJB) akan melakukan tour ke Kampung Arab di daerah Pekojan. Sambil ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa, kami menjelajahi daerah Pekojan sambil menelusuri sejarah perkembangan islam dan masjid-masjid tua yang berdiri megah disana.Tour sore itu diawali dengan menyusuri gedung-gedung tua peninggalan kolonial di area Kali Besar ke arah Pekojan. Setelah kurang lebih 30 menit bejalan kaki, kami memasuki area kampung Pekojan dan disambut dengan keberadaan bangunan Masjid Al Anshor. Konon, dulunya masjid ini adalah sebuah surau yang dibangun tahun 1648 M oleh orang India. Hingga saat ini, makam tiga orang India tersebut masih dapat dilihat di area halaman masjid. Ketika kami berkunjung, masjid sedang mengalami renovasi, tetapi bangunan aslinya masih tampak jelas tanpa mengalami banyak perubahan. Masjid ini tidak terlalu besar dan berada di gang sempit perkampungan Pekojan.
Dari masjid ini, perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi masjid Jami’atul Khair yang didirikan pada tahun 1901 M. Di masjid ini, sempat terbentuk dan lahir organisasi pemuda islam yang menyebarkan paham Pan Islamisme di Batavia dan Nusantara, serta ide awal berdirinya organisasi Budi Utomo dari para pemuda islam saat itu. Bangunan masjid Jami’atul Khair merupakan bangunan lama dengan ciri khas daun-daun jendela kayu yang besar-besar dan lebar, seperti yang pernah saya temui pada gedung tua Candranaya di Glodok. Di dalam masjid bagian belakang, masih dapat saya lihat sebuah kolam yang dahulu pernah digunakan sebagai tempat berwudhu.
Saya dan teman-teman pun melanjutkan perjalanan menuju masjid An Nawier. Sebelum sampai di masjid itu, kami melewati masjid Zawiah yang dulunya merupakan sebuah langgar kecil. Sayangnya, masjid tersebut telah mengalami renovasi total di tahun 1980, dan sama sekali menghilangkan arsitektur bangunan lamanya. Masjid ini didirikan oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas yang mengajarkan kitab Fathul Mu’in sebuah kitab kuning yang sekarang masih dijadikan rujukan di kalangan kaum tradisional. Di dekat masjid ini terdapat sebuah rumah tua dengan gaya arsitektur Moor, yaitu gaya arsitektur khas timur tengah, yang kini ditempati oleh keluarga Aljufri.
Dan sampailah kami di masjid An Nawier. Wow, masjid ini benar-benar masjid tua yang cukup megah! Pada papan informasi yang saya lihat, masjid ini dibangun pada tahun 1760 M, namun hingga kini masih berdiri kokoh dengan bangunan aslinya. Ciri khas masjid ini, didalamnya saya bisa melihat banyak tiang-tiang megah berdiri dan juga mimbar masjid yang megah tempat khatib berceramah. Konon mimbar ini adalah hadiah dari Sultan Pontianak yang diberikan pada abad ke-18. Di halaman masjid dapat saya lihat beberapa makam keluarga pendiri masjid ini. Dan satu hal lagi yang menarik saya, di masjid ini terdapat sebuah menara setinggi 17 meter, yang dulu pernah digunakan untuk adzan dan juga tempat bersembunyi para pejuang kemerdekaan dari hadapan musuh. Saya sempat penasaran dan naik ke atas menara, namun sayangnya hanya sampai setengah perjalanan saja, tidak sampai pada puncaknya. Di dalam menara terdapat anak tangga yang berliku-liku dan sempit untuk dilewati oleh banyak pengunjung. Hal ini yang juga membuat saya urung menuju puncak menara.
Perjalanan sore itu kami lanjutkan kembali menuju Masjid Langgar Tinggi. Sebelum sampai di masjid itu, kami melewati Jembatan Kambing, dimana di dekat jembatan terdapat pusat perdagangan dan pejagalan kambing yang terkenal sejak dulu. Tentu saja saat melewati area itu, saya sempat mencium bau kambing yang cukup mencolok. Untungnya hanya sejenak saja saat melintas.
Tidak lama kemudian, sampailah kami di Masjid Langgar Tinggi. Masjid ini berada tepat di pinggir kali Angke. Masjid ini dibangun pada tahun 1829 M oleh seorang kapiten Arab bernama Syekh Said Naum. Bangunan masjid ini masih asli, tanpa ada perubahan sedikitpun. Bangunannya berlantai dua, di lantai satu merupakan tempat tinggal keluarga keturunan Arab dan di lantai dua adalah tempat beribadah. Dulu, dari sisi kanan masjid ada sebuah pintu akses langsung dari kali Angke menuju masjid. Gunanya untuk para pedagang yang berlayar melintasi kali Angke dan ingin beribadah, dapat langsung memasuki area tempat wudhu masjid. Tetapi saat ini kondisi kali Angke sangatlah berbeda dan sudah tercemar, sehingga akses tersebut ditutup.
Setelah puas berkeliling kampung Arab di Pekojan, saya dan teman-teman kembali menyusuri area Pecinan dan kota tua Jakarta menuju pelataran museum Fatahilah untuk berbuka puasa bersama disana. Sesampainya di museum Fatahilah, kami disambut oleh suara adzan Magrib, tanda berbuka puasa telah tiba. Panitia pun sudah menyiapkan kolak dan juga nasi box sebagai menu berbuka puasa. Betapa senang dan nikmatnya, saya bisa berbuka puasa dan juga sholat magrib beramai-ramai di halaman belakang museum Fatahilah. Ngabuburit yang mengasyikkan! Waktu berbuka sampai tak terasa lamanya karena asyik berjalan-jalan menyusuri sejarah islam di Kampung Arab Pekojan.
(Terima kasih kepada Komunitas Jelajah Budaya dan Museum Sejarah Jakarta)
Liburan seru ke Ciamis dan Pangandaran
Akhir Juli yang lalu saya mengambil cuti untuk berlibur ke rumah nenek di sebuah desa di pegunungan Ciamis, dan juga berbackpacking bersama ibu saya ke Pangandaran.Kami berangkat dari Bekasi hari Jumat pagi, dengan menggunakan bis umum jurusan Bekasi – Pangandaran. Perjalanan ke kota Ciamis menempuh waktu 6 jam perjalanan. Untuk sampai ke rumah nenek, dari kota Ciamis, saya kembali menggunakan angkutan desa, dan menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Saya sudah sangat rindu dengan suasana di rumah nenek yang terletak di lereng perbukitan, berhawa dingin, di sisi kanan rumah nenek terdapat hamparan sawah yang hijau, pohon-pohon rindang, dan juga kolam (balong) ikan yang luas. Suasana desa yang begitu tenang, pemandangan hijau yang saya temui, udara sejuk yang saya rasakan, mampu membuat saya rileks dan melupakan sejenak rutinitas serta hiruk pikuk kepenatan kota Jakarta.
Selama perjalanan menuju rumah nenek, saya sangat menikmati suasana sore hari itu. Orang-orang desa berbahasa Sunda halus hilir mudik naik dan turun angkutan, saling menyapa, mata saya pun memandang ke luar jendela yang menghembuskan angin sejuk pegunungan, terlihat hamparan terasering sawah berwarna hijau dan kuning, aliran sungai yang jernih, jalanan desa yang berlika-liku mengitari perbukitan, rimbunnya pepohonan, rumput-rumput liar yang tumbuh di dinding bukit, rumah-rumah panggung tradisional, benar-benar suasana berlibur yang sempurna, tenang dan nyaman.

Rumah Nenek
Tepat jam 16.00 wib, saya tiba di rumah nenek. Dengan senang hati, nenek menyambut kedatangan saya dan ibu saya. Rumah nenek tidak banyak berubah, namun sekarang lebih tertata rapi, taman-tamannya dipenuhi pohon-pohon buah dan beberapa tanaman bunga, rumput-rumput hijau terpangkas rapi, kolam ikan mas di depan rumah yang menimbulkan suara gemericik air, gazebo di taman tepat di pinggir balong ikan menghadap ke sawah di sisi kanan rumah. Nyaman sekali!
Sesampai di rumah nenek, saya beristirahat sejenak, kemudian membersihkan diri dan beribadah ashar. Setelah itu, saya tidak sabar untuk segera berleyeh-leyeh di gazebo sambil menikmati udara sejuk dan suasana desa sore hari itu. Sesorean itu, saya, ibu saya dan nenek menghabiskan waktu menanti adzan magrib di gazebo sambil mengobrol dan melepas rindu.
Backpacking sehari ke Pangandaran
Sabtu pagi, saya dan ibu saya akan melakukan backpacking ke Pangandaran. Perjalanan dari rumah nenek ke pantai Pangandaran kami tempuh selama 3 jam. Kami kembali menumpang angkutan desa dari depan rumah nenek sampai ke terminal Ciamis. Dari terminal Ciamis, kami menggunakan bis seukuran metro mini di Jakarta dengan jurusan Tasikmalaya – Cijulang, rutenya lewat Pangandaran. Perjalanan pagi itu kami tempuh dengan senang hati. Jalanan yang berkelok-kelok dan udara pegunungan yang sejuk menyertai perjalanan kami. Setelah 2 jam perjalanan, sampailah kami di terminal Pangandaran.
Saat kami tiba, waktu menunjukkan pukul 10.30 wib. Untuk menuju ke kawasan pantai Pangandaran, kami perlu naik becak dari terminal Pangandaran. Sebenarnya jarak tempuhnya tidak terlalu jauh, namun jika ditempuh dengan berjalan kaki sepertinya akan lumayan melelahkan juga.
Sepi, benar-benar sepi suasana Pangandaran hari itu. Jarang sekali tampak mobil berlalu lalang di jalanan. Hanya terlihat satu dua saja, yang lainnya hanya becak, motor, ataupun sepeda. Namun tetap tidak seramai biasanya. Mungkin karena orang-orang masih takut atau mungkin trauma paska tsunami, sehingga masih enggan berkunjung ke Pangandaran. Kebetulan Juli itu saat saya berkunjung kesana, tepat setahun paska tsunami Pangandaran. Hanya suara deburan ombak yang cukup keras, dan hembusan angin laut yang lumayan kencang yang meramaikan suasana di tepi pantai hari itu.
Turun dari becak, kami sempat mampir sejenak di penjual bubur ayam yang mangkal di tepi pantai. Sambil menyantap bubur ayam, saya menikmati deburan ombak di tepi pantai Pangandaran, dan memperhatikan sekumpulan nelayan yang sedang menjalin jala-jala ikan sebelum pergi melaut.Setelah menghabiskan semangkuk bubur ayam, saya dan ibu melanjutkan perjalanan menjelajah area Pangandaran dengan menyewa sepeda.
Wah, asyik sekali bersepeda di sepanjang pantai Pangandaran, apalagi jalanan hari itu sangat sepi. Kami menyusuri Pantai Barat Pangandaran kemudian ke Pantai Timur, melewati penginapan-penginapan yang sepi wisatawan, kios-kios penjual ikan asin, pernak-pernik khas Pangandaran, baju-baju pantai. Puas berkeliling, kami memutuskan untuk mampir ke tempat pelelangan ikan, memilih udang dan kepiting untuk kami santap saat makan siang. Tidak terasa waktu siang itu sudah menunjukkan jam 12.00 wib, berarti tiba saatnya makan siang. Udang dan kepiting yang kami beli, diolah terlebih dahulu oleh Sang Koki, untuk kemudian dihidangkan kepada kami. Duh, nikmatnya makan siang dengan menu kepiting asam manis dan udang bakar, di rumah makan yang berhadapan langsung dengan laut di Pantai Timur Pangandaran.
Sambil menyantap makan siang, saya menikmati pemandangan di depan mata saya, hamparan laut biru tosca yang luas, kapal-kapal nelayan yang berlayar diatasnya, langit yang biru cerah, perbukitan yang tampak samar dari kejauhan, indah sekali!
Setelah kenyang bersantap siang, kami melanjutkan bersepeda menyusuri tepian pantai menuju lokasi Suaka Cagar Alam Pangandaran. Sayangnya, siang itu kami tidak sempat masuk ke dalam cagar alam. Dari depan pintu masuk area cagar alam, saya sempat mengambil beberapa foto perahu-perahu nelayan yang sedang menepi berbaris di tepian pantai berpasir putih bersih, dengan latarbelakang lautan luas berwarna biru dan hijau tosca.Selanjutnya, saya dan ibu kembali bersepeda menyusuri tepi pantai dan menyempatkan diri mampir ke kios penjual ikan asin untuk membeli beberapa oleh-oleh. Berbagai jenis dan bentuk ikan asin dijual disini dengan harga yang relatif jauh lebih murah daripada di Jakarta. Puas berbelanja oleh-oleh, kami kembali melakukan perjalanan dengan sepeda. Saat itu, saya sempat prihatin dan simpati saat bersepeda melintasi sisa bangunan-bangunan yang hancur diterpa tsunami.
Bangunan-banguan tersebut kebanyakan adalah penginapan dan beberapa mushola. Kemungkinan pemiliknya tidak mampu untuk membangun dan berbisnis kembali, sehingga bangunan tersebut dibiarkan hancur.
Melihat dampak kehancuran bangunan, saya merasa ngeri membayangkan tragedi tsunami di Pangandaran setahun lalu. Betapa dahsyatnya, walaupun tidak separah Aceh, namun tetap saja mengerikan dan memprihatinkan. Akibatnya, pariwisata di Pangandaran menjadi sepi dan wisatawannya menurun.
Setelah puas bersepeda menjelajah area wisata Pangandaran dan bermain di tepi pantai, saya dan ibu kembali pulang dengan menumpang becak menuju terminal Pangandaran, untuk kembali ke rumah nenek di Ciamis. Sepanjang perjalanan di becak, saya mengobrol dengan tukang becak. Dia bercerita mengenai tragedi tsunami setahun yang lalu, dimana air laut membanjiri area Pangandaran sampai ke dekat terminal Pangandaran. Akibatnya, pariwisata di Pangandaran menurun drastis. Wisatawan masih merasa takut, tukang perahu pun terkena dampaknya, karena wisatawan enggan diajak berwisata naik perahu ke tempat terumbu karang di tengah pantai Pangandaran. Begitu juga dengan pemilik penginapan, penjual ikan asin, ataupun oleh-oleh lainnya di sepanjang pantai Pangandaran. Semua terkena dampaknya. Sungguh ironis!Ajang Pilkades
Minggu pagi di rumah nenek, ada menu sarapan yang khas saya temui di rumah nenek, yaitu serabi yang dimakan dengan rempeyek kacang. Berbeda dengan serabi di Jakarta, yang dimakan dengan kuah gula merah. Pagi itu setelah sarapan, saya, ibu saya, nenek, dan beberapa saudara saya lainnya bersiap-siap menuju lapangan desa untuk menyaksikan ajang pemilihan kepala desa (Pilkades) secara langsung oleh warga desa.
Kata nenek, ajang pemilihan langsung seperti ini baru ada saat ini, sehingga suasananya pasti akan sangat meriah. Wah, benar saja! Sesampainya saya di lapangan desa, sudah banyak warga yang menunggu waktu pencoblosan dimulai dengan wajah optimis. Lapangan desa tidak hanya dipenuhi warga, tetapi juga para penjaja makanan, penjual alat kebutuhan rumah tangga, mainan anak, sampai pakaian juga ikut memeriahkan suasana pilkades. Seru sekali!
Saya sempat kaget dan terkagum-kagum saat melihat trus-truk besar melintas di depan saya, memasuki area parkir lapangan desa. Truk-truk itu mengangkut warga-warga desa yang ingin mencoblos secara langsung calon pemimpin desanya.
Wow, hebat! Ternyata di desa kecil dan terpencil seperti ini, proses demokrasi dapat berjalan lancar dan tertib. Para warga desa terlihat sangat antusias.
Belum habis rasa kagum saya, kembali saya dikejutkan dengan pemandangan seorang anak muda yang menggendong ibunya yang sakit dan tidak bisa berjalan, namun dengan penuh semangat si ibu hadir di lapangan desa demi memenuhi hak pilihnya, amazing!
Sayangnya, hari itu saya dan ibu tidak bisa mengikuti secara penuh acara pemilihan kepala desa, karena kami harus kembali ke Jakarta. Siang hari, sekitar jam 12.30 wib, kami kembali ke Jakarta naik mobil bersama dengan saudara-saudara kami yang lain. Perjalanan siang itu ditempuh dengan kecepatan yang cukup tinggi, hasilnya perjalanan Ciamis – Bekasi hanya memakan waktu 4,5 jam saja.Benar-benar liburan singkat yang menyenangkan!
Thursday, June 28, 2007
Gathering Milis IndoBackPacker (IBP) Jakarta
Sabtu, 23 Juni 2007, sukses juga acara Gathering Milis IndoBackPacker (IBP) Jakarta di Beyond Cafe. Congrats untuk para panitia, Mbak Tari, Mas Aris, Mbak Rini & The Gank yang udah mengatur semuanya. Dengar info dari mbak Tari, awalnya IBP cuma mau bikin acara puter film ”An Incovenient Truth” aja, tapi trus tercetus juga ide buat gathering sekalian. Dan dalam waktu 1 minggu, Mbak Tari & The Gank bisa melaksanakan acara yang ternyata perdana ini. Hebat!!! Hehehe =)Saya sebagai pemain baru di milis (sejak tahun 2006) merasa senang bisa gabung di komunitas IBP. Saya s udah merasakan manfaatnya, terutama ketika saya memerlukan banyak informasi mengenai destinasi traveling yang akan saya jalani. November 2006 yang lalu, saat saya akan melakukan perjalanan ke Bromo dan sekitarnya, saya menggali informasi sebanyak2nya dari milis tentang rute, tempat-tempat menarik, kondisi alam, dsb dari daerah tujuan. Hasilnya, saya jadi lebih PD dan tenang dalam melakukan perjalanan tsb karena punya informasi yang cukup.
Kembali ke acara gathering, pagi-pagi jam 9 teng, saya dan anggota milis IBP lainnya udah mulai berdatangan ke Beyond Cafe - Graha Iskandarsyah. Kita melakukan registrasi dulu, kemudian kita dikasih name tag untuk memudahkan perkenalan satu sama lain. Lucunya, begitu semua pake name tag dan saling menyapa, berkenalan satu sama lain, masing-masing berkomentar : ”Oh ternyata kamu yang namanya si A, atau si B. Selama ini cuma tau nama aja lewat milis, sering tuker2an info di milis atau lewat email tapi gak tau orangnya...” hehehe=P Awalnya agak canggung, tapi ternyata temen2 di milis IBP ramah2 dan very welcome (mungkin karena pengaruh jiwa backpacker yang mudah beradaptasi di tempat baru, hehehe=D), saya langsung merasa nyaman berada di dalam komunitas IBP. Pagi itu, ternyata yang datang tidak hanya anggota milis IBP, tapi juga ada beberapa orang penggemar traveling yang belum menjadi anggota milis namun tertarik untuk tahu lebih lanjut tentang IBP dan aktifitasnya.
Acara dimulai jam 09.30 wib dengan pemutaran filmnya Al Gore tentang Global Warming : ”An Incovenient Truth.” Film yang bikin kita semua merasa miris dan mulai aware dengan kondisi bumi yang semakin memprihatinkan. Selesai nonton film bareng, kita semua diajak berdiskusi interaktif (lebih kayak ngobrol-ngobrol siy) mengenai isu Global Warming ini. Diskusi dan pengetahuan kita jadi makin tambah karena IBP menghadirkan juga wakil dari Green Peace, Mbak Yaya, yang menjelaskan tentang Global Warming, dan Mas Rusman dari CDM yang menjelaskan tentang upaya-upaya mengurangi efek Global Warming yang telah dan sedang ditempuh oleh seluruh negara di dunia, termasuk juga tentang Kyoto Protocol. Diskusi makin seru karena banyak pertanyaan dari anggota milis yang tertarik akan isu ini.
Selesai diskusi tepat jam 12.00 wib, sudah saatnya makan siang. Kita bersama-sama menyantap makan siang sambil melanjutkan ngobrol-ngobrol perkenalan pagi tadi. Obrolan seputar profesi, domisili, dan pengalaman traveling/ backpacking meramaikan suasana siang itu.
Setelah semua kenyang dan waktu break pun selesai, kita kembali melanjutkan acara, yaitu berbagi pengalaman traveling/ backpacking. Diawali oleh Mbak Sophie yang bercerita, berbagi pengalaman juga tips-tips saat dia melakukan perjalanan ke 3 negara di Asia Tenggara (Singapura, Thailand, Malaysia). Mbak Sophie melakukan perjalanan bersama beberapa anggota milis IBP lainnya bulan April kemarin. Dan yang membuat saya terpana, ternyata dengan dana minim (sekitar Rp 2,5 juta) kita sudah bisa melakukan perjalanan ke 3 negara di Asia Tenggara, tentunya dengan gaya backpacker dan persiapan yang matang, misalnya tiket sudah dipesan dan paspor/ visa sudah diurus jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang tempat menginap murah (guest house, dormitory, hostel), transportasi publik, penduduk lokal dan budayanya, serta tempat-tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi.Sesi berikutnya diisi oleh Mbak Raiyani, yang berbagi informasi dan pengalaman seputar skill fotografi saat melakukan perjalanan. Kita semua diajak melihat koleksi foto-foto hasil jepretannya, sambil diceritakan kisah-kisah unik dibalik pengambilan foto tsb. Kebanyakan fotonya berupa foto landscape/ pemandangan eksotik daerah wisata, foto penduduk lokal dan aktifitasnya, serta foto prosesi sebuah acara/ festival kebudayaan lokal.
Puas melihat-lihat koleksi foto dan mendapatkan informasi seputar fotografi, tibalah saatnya Mas Aris (salah satu pendiri milis), membagi pengalamannya ber-backpacking di daerah-daerah eksotik di Indonesia, terutama di kawasan Taman Nasional. Mulai dari Ujung Genteng, Panaitan, Lembata, Alas Purwo, dsb, sampai Pedalaman hutan Kalimantan. Baik track backpacking yang mudah sampai yang paling sulit, udah pernah dijelajahi oleh Mas Aris.
Diakhir sesi, saya sempat melontarkan satu pertanyaan :
Saya sebagai perempuan (bukan soal gender) terkadang masih merasa takut atau ragu untuk melakukan perjalanan backpacking seorang diri, apalagi ke daerah-daerah yang masih asing untuk saya, khususnya berkaitan dengan masalah keamanan dan keselamatan diri. Apa tips-tips dan hal-hal penting yang harus saya perhatikan saat melakukan perjalan tsb?
Jawaban dari Mas Aris :
Jika daerah asing tersebut masih bisa diakses dengan banyak transportasi publik, masih direkomendasikan untuk ber-backpacking sendiri. Namun jika daerah tujuan adalah pedalaman hutan atau kawasan Taman Nasional, perempuan tidak direkomendasikan untuk ber-backpacking seorang diri. Semua karena faktor keselamatan diri.
Ada tambahan tips dan sharing informasi dari member lainnya. Untuk kaum perempuan yang akan ber-backpacking sendirian perlu memperhatikan beberapa hal sbb :
1. Kesiapan mental
2. Jaga dan perhatikan penampilan, jangan pakai baju ”mencolok” dan mengundang bahaya
3. Pintar beradaptasi dan dapat menjalin komunikasi serta hubungan yang baik dengan penduduk lokal
4. Stay cool, tapi jangan bersikap ’sok tahu’ atau belagu (mentang-mentang dari kota metropolitan)
5. Menyiapkan peralatan keamanan diri, misalnya pisau lipat.
Setelah puas saling berbagi pengalaman dan bertanya-jawab, lengkap sudah acara gathering siang itu. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan saling berpamitan.
Wah, asyik banget! Gak sia-sia saya datang ke acara gathering ini dari pagi sampai sore hari, karena saya pulang dengan membawa banyak hal : Teman-teman baru, informasi traveling/ backpacking yang seru-seru dan tentunya juga pengetahuan baru. Benar-benar menambah wawasan saya, senaaaang deh! Hehehe =)Bravo IBP!
Tuesday, May 01, 2007
Bandung deui... Bandung deui...
Berakhir pekan ke Bandung tidak terasa bosan, walaupun saya sudah cukup sering juga jalan-jalan ke Bandung. Seperti akhir pekan kemarin yang saya habiskan untuk berwisata belanja dan kuliner ke Bandung bersama teman-teman kantor saya, hanya bisa digambarkan dengan satu kata : SERU!Sabtu pagi kemarin perjalanan sangat lancar dari Jakarta menuju Bandung. Tujuan pertama kami untuk berwisata belanja adalah area Dago. Jadilah mini bus yang membawa kami parkir di depan sebuah Factory Outlet (FO), dan kami pun bebas berjalan kaki keluar-masuk menyusuri setiap FO di sepanjang Dago alias Jl. Juanda. Sebenarnya saya lumayan doyan juga belanja, tapi hari itu saya tidak belanja gila-gilaan, hanya secukupnya saja. Bukannya no money, tapi kemarin saya tidak begitu tergoda melihat model baju-baju di FO yang saya susuri, kok banyak yang cupu namun dijual dengan harga mahal. Jadi saya pikir lebih baik saya berbelanja di Jakarta saja, model bajunya lebih up to date. Setelah hunting di beberapa FO, akhirnya saya menemukan skinny jeans yang oks banget dengan harga so-so, sebuah sepatu sandal di Donatello, sisanya saya berburu t’shirt ke distro Ouval Research. Lumayan....
Setelah berburu pakaian di FO, kami bersama-sama menuju restoran Rumah Nenek di daerah Cilaki untuk makan siang. Menu yang saya pilih siang itu benar-benar khas Indonesia dan rasanya sangat enak: Sop Buntut Goreng dan Sate Maranggi, hummm... betapa nikmatnya!
Selesai makan siang, kami kembali lagi ke Dago untuk berbelanja kembali. Namun, saya dan beberapa teman memilih untuk memisahkan diri dan meneruskan perjalanan ke daerah Tubagus Ismail, tepatnya di kantin Sakinah, tempat makan Es Duren yang super lekker. Tempat ini memang salah satu tujuan yang saya targetkan setiap berkunjung ke Bandung, karena saya belum pernah menemukan tempat lain yang menyediakan Es Duren asli seenak dan sebanyak disini. Dengan harga Rp 10.000 per-porsi, saya puas mekan Es Duren satu mangkok besar... Rasanya? Jangan ditanya... Slurrrphh... nikmat dan lekker! Pokoknya pas banget buat para penggemar duren, dijamin ketagihan mau dan mau lagi. Berani taruhan?!

Puas makan Es Duren, kami langsung pulang ke hotel di daerah Braga, tepatnya di hotel Aston Bandung yang letaknya satu area dengan Braga City Walk. Saya sangat suka menginap disana, karena ambience Jl. Braga sebagai sebuah kota tua yang cukup eksotik, sehingga saya bisa melihat dan menikmati banyak pemandangan gedung-gedung tua peninggalan jaman Belanda. Selain itu, fasilitas akomodasi di Aston sangat bagus. Kebetulan rombongan kami mengambil beberapa kamar di area apartemen Aston di lantai 19, dan kamar yang saya tempati merupakan ruang apartemen yang nyaman dan luas. Didalamnya terdapat 1 living room yang menghadap ke balkon, 1 pantry/ kitchen (lengkap dengan microwave, kompor, dan kulkas kecil), 3 bedroom, serta 2 kamar mandi. Jika Anda mau berlibur ke Bandung bersama keluarga, saya sarankan menginap di apartemen Aston ini, dengan harga yang relatif murah bisa mendapat tempat yang nyaman untuk keluarga.
Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan diri, saya dan teman-teman berangkat menuju kawasan Dago Pakar untuk makan malam bersama. Tepatnya di Sierra Cafe & Lounge. Sierra juga merupakan salah satu tempat favorit saya untuk makan malam ketika berlibur ke Bandung. Saya suka ambience restorannya, dan dari sana saya bisa menikmati pemandangan indah kota Bandung di malam hari, selain juga hawanya sejuk. Malam itu saya menemukan menu baru di Sierra, sushi mix sebagai hidangan pembuka alias appetizer. Kebetulan saat itu saya memang lagi kepingin makan sushi. Rasanya enak. Untuk main course saya memesan menu khas Sierra, yaitu menu steak. Memang agak nggak matching dengan appetizernya, hehe… Makan malam hari itu sangat nikmat, selain menunya enak, saya juga merasakan hangatnya kekeluargaan bersantap malam bersama teman-teman sekantor dan juga si boss yang super baik hati tentunya.

Hari makin malam, dan saya pun mulai lelah. Malam itu saya melewati tawaran teman untuk menonton film midnite di Blitz ataupun menikmati live music di Braga City Walk karena saya cukup lelah dan perlu menyimpan energi untuk esok harinya. Jadi, sepulang makan malam saya memilih untuk beristirahat di hotel, menikmati kota Bandung di malam hari dari ketinggian balkon kamar hotel.

Keesokan harinya saya bangun dalam keadaan segar dan senang. Mandi pagi-pagi, dilanjutkan dengan packing untuk bersiap-siap cek out dari hotel. Tepat jam 9 pagi, saya dan rombongan cek out dari hotel.

Perjalanan kami minggu pagi dimulai dengan sarapan pagi bersama di daerah Sulanjana, tepatnya di kedai Bubur Ayam Mang Oyo yang terkenal enak itu. Ternyata bubur ayam Mang Oyo memang sangat khas, buburnya agak padat dan bumbunya sudah menyatu dalam bubur, sehingga bubur Mang Oyo tidak memakai bumbu cair seperti layaknya bubur ayam lainnya. Rasanya enak dan gurih.
.jpg)
Perut sudah kenyang, energi sudah bertambah... Dan kami pun siap berwisata belanja kembali. Kali ini kami mengunjungi Fo-FO di sepanjang Jl. Riau. Tak ketinggalan, kami juga mampir ke toko kue andalan : Bawean dan Prima Rasa, yang menjual berbagai pilihan oleh-oleh khas Bandung, khususnya brownies legit dengan rasa cokelat yang menggigit. Cokelat banget gitu lho! =)
Seharian puas berwisata belanja, kami menyempatkan bersantai sejenak di restoran Kembang Pare, Jl. Halmahera (dekat FO Renariti). Tempatnya cukup nyaman, tidak terlalu ramai, menu makanannya juga lumayan enak dan banyak pilihan. Selesai bersantai, kami pun bergegas ke bis yang mengantar kami untuk kembali ke Jakarta, kembali ke kehidupan nyata setelah berlibur sejenak sambil berwisata belanja ke Bandung.
Walau hanya sejenak, namun jalan-jalan akhir pekan kemarin cukup membuat merasa puas dan senang. Bandung deui... Bandung deui... Siapa takut?! Hayuuu ka Bandung deui... hehehe =P
Monday, February 19, 2007
Bagaimana Rasanya...???
Bagaimana rasanya ketika kamu melihat sebuah kehancuran situs sejarah seperti ini...???
Atau ini....

Tetapi, melalui acara wisata sejarah bersama, paling tidak kita jadi tahu seperti apa bentuk dan fungsinya gedung ini di masa lalu...

Walaupun tetap ada rasa prihatin, jika kita bersama menyaksikan sisa kehancuran ini...

Padahal masih banyak gedung-gedung tua yang cantik peninggalan Old Batavia kokoh berdiri hingga sekarang, seperti ini...
Ataupun ini...
Atau juga ini...
Akankah gedung-gedung tua itu bernasib sama, hancur termakan usia karena tak ada jaminan preservasi ???Mari kita renungkan bersama bagaimana langkah selanjutnya supaya anak-cucu kita tetap mengenal sejarah bangsanya...